Rabu, 05 November 2008

Ya Allah..

Astaghfirullaahal 'adziim..
Subhanallaah..
Allaahu Akbar..

Maha Suci Allah dari segala prasangka buruk hamba-Nya..
Ya Allah, bukan maksud hari berprasangka pada-Mu..
Keluh ini bukan karena tidak yakin akan kebesaran-Mu..

Ya Allah,
Betapa relung ini kosong..
Mengapa rasa itu datang lagi..
Kenapa seperti ini lagi..

Ya Allah,
Hampa.. seperti ada yang hilang
Apa yang tidak terasa..
Rizki-Mu padaku melimpah..
Kasih Sayang-Mu padaku senantiasa tercurah..
Perhatian-Mu padaku tidak pernah kurang..
Lalu apa ini yang kurasakan?
Yang dekat, mengapa terasa jauh..
Yang jauh, mengapa selalu hadir dalam angan alam pikiranku?

Semua orang bilang,
Yang membuatku stress adalah diri sendiri..
Suamiku juga bilang..
"Terlalu banyak hal yang ga penting yang kamu pikirkan.."
Kadang akupun merasa banyak hal-hal yang sebenarnya ga perlu dipikirkan, malah dipikirkan.. Padahal mungkin akan lebih baik jika digunakan untuk memikirkan hal lain yang lebih penting..
Entah..
Sampai kini tidak kutemukan jawab yang pasti..

Hambar..

Ada yang hambar..
Ada yang hilang..
Ada yang hampa..
Ada yang terasa tiada..
Ada yang kosong di jiwa ini..
Mengapa merasa ada yang tidak biasa..
Apakah yang putih itu kini telah kelabu dan bahkan hitam??

Ya Allah, jangan tinggalkanku..

Sebelum Tidur

Bismika Allaahumma ahyaa wa bismika amuut
Artinya :
Dengan menyebut nama Allah aku hidup
dan dengan menyebut nama-Nya aku mati

Selasa, 04 November 2008

Allah, SWT. Mengampuni Orang yang Keliru, Lupa dan Terpaksa

Dari Tausyiah275..

Bismillaah,

Dari Ibu Abbas Radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallaam bersabda,
"Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa perilaku umatku,
yakni (karena) keliru, lupa dan terpaksa."
(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Baihaqi dan lain-lain).

Penjelasan :

Seseorang tidak bisa dikenai sanksi atas perbuatannya yang dilakukan karena ketiga hal di atas, yakni karena keliru, lupa dan terpaksa.

Contoh terpaksa :
Babi hukumnya haram dimakan. Akan tetapi, jika kita berada dalam keadaan terdesak/terpaksa, tidak ada makanan lain misalnya, maka kita BOLEH makan babi. Tentu saja tidak lantas dipuas-puaskan begitu saja.

Contoh keliru :
Kita sedang shalat di sebuah tempat yang kita tidak tahu arah kiblatnya. Selesai shalat, saat meneruskan perjalanan, barulah kita tahu, bahwa
arah kiblat kita salah. Atas kekeliruan tersebut, kita TIDAK PERLU mengulang shalat, meskipun kiblat kita salah, karena kita keliru.

Contoh lupa :
Saat sedang bulan Ramadhan. Usai menempuh perjalanan jauh, saat tiba di kantor, kita langsung minum untuk menghilangkan haus. Maka kita tidak akan dikenai sanksi, karena kita lupa bahwa kita sedang shaum. Dan itupun tidak lantas membatalkan shaum kita.

Semoga artikel ini bermanfaat.


Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo kesini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang .... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki itu tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberiku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah datang lagi menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu,"
jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki itu. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang manusia. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara manusia (kebanyakan) memperlakukan orang tua.